Polusi plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang paling mendesak, karena peningkatan produksi produk plastik sekali pakai yang membanjiri kemampuan dunia untuk mengatasinya. Polusi plastik paling terlihat di negara-negara berkembang Asia dan Afrika, di mana sistem pengumpulan sampah sering tidak efisien atau bahkan tidak ada.
Namun untuk negara maju pun, terutama negara dengan tingkat daur ulang yang rendah, juga memiliki masalah mengumpulkan sampah plastik dengan benar. Sampah plastik menjadi sangat umum sehingga mendorong upaya untuk membuat perjanjian global yang dinegosiasikan oleh PBB.
Bagaimana Ini Terjadi?
Plastik dibuat dari bahan bakar fosil sudah berumur lebih dari satu abad. Produksi dan pengembangan ribuan produk plastik makin cepat setelah perang dunia ke-2.Plastik merevolusi dunia kesehatan dengan perangkat yang menyelamatkan jiwa, memungkinkan perjalanan ruang angkasa, mobil dan jet yang ringan — menghemat bahan bakar dan polusi — dan menyelamatkan nyawa dengan helm, inkubator, dan peralatan untuk air minum bersih.
Kemudahan yang ditawarkan plastik, menyebabkan budaya buang-sekali pakai menjadi sisi gelap plastik: hari ini, plastik sekali pakai merupakan 40 persen dari plastik yang diproduksi setiap tahun. Banyak dari produk ini, seperti kantong plastik dan pembungkus makanan, memiliki umur hanya beberapa menit hingga berjam-jam, namun mereka tetap bertahan di lingkungan selama ratusan tahun.
Plastik dengan angka – Beberapa fakta kunci
- Setengah dari semua plastik yang pernah diproduksi telah dibuat dalam 15 tahun terakhir.
- Terjadi peningkatan Produksi yang drastis, dari 2,3 juta ton pada tahun 1950 menjadi 448 juta ton pada tahun 2015. Produksi diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2050.
- Setiap tahun, sekitar 8 juta ton sampah plastik masuk ke lautan dari negara-negara pesisir. Itu sama dengan mengatur lima kantong penuh sampah dalam 30cm di pantai di seluruh dunia.
- Agar kuat, fleksibel dan tahan lama, Plastik menggunakan zat tambahan. Zat ini yang menyebabkan plsatik bisa bertahan hingga 400 tahun tanpa terurai.
Bagaimana sampah plastik tersebar
Lautan, dapat dibilang tempat pembuangan akhir di Bumi. Sampah mengalir dari daratan melalui sungai-sungai besar, yang bertindak sebagai ban berjalan. Makin kehilir, makin banyak sampah saat yang tertimbun. Begitu sampai di laut, banyak sampah plastik tersisa di perairan pantai. Namun begitu terjebak dalam arus laut, sampah siap untuk “diangkut” ke seluruh dunia.Di Pulau Henderson, atol tak berpenghuni di Grup Pitcairn yang terisolasi di tengah antara Chili dan Selandia Baru, para ilmuwan menemukan barang-barang plastik dari Rusia, Amerika Serikat, Eropa, Amerika Selatan, Jepang, dan Cina. Mereka terbawa arus laut melingkar ke Pasifik Selatan.
Mikroplastik
Sesampainya di laut,terik matahari disertai terpaan angin dan gelombang memecah sampah plastik menjadi partikel-partikel kecil, seringkali kurang dari seperlima inci.Benda yang sering disebut Mikroplastik ini tersebar di seluruh kolom air dan telah ditemukan di setiap sudut dunia, dari Gunung Everest, puncak tertinggi, ke Palung Mariana, palung terdalam.
Tidak hanya sampai disini, Mikroplastik masih terurai lebih lebih kecil dan lebih kecil menjadi microfiber plastik. Dan telah ditemukan di sistem air minum kota dan melayang di udara.
Membahayakan satwa liar
Setiap tahunnya, jutaan hewan mati disebabkan oleh plastik, dari burung, ikan hingga organisme laut lainnya. Hampir 700 spesies, termasuk yang terancam punah, diketahui telah terkontaminasi oleh plastik. Hampir setiap spesies burung laut memakan plastik.Sebagian besar kematian hewan karena terbelit atau kelaparan. Anjing laut, paus, kura-kura, dan hewan lainnya terperangkap oleh alat pancing atau six-pack ring yang dibuang. (six-pack ring adalah ring plastik paking minuman kaleng).
Mikroplastik telah ditemukan di lebih dari 100 spesies air, termasuk ikan, udang, dan kerang. Dalam banyak kasus, potongan-potongan kecil ini melewati sistem pencernaan dan dikeluarkan tanpa konsekuensi. Tetapi ada kasus dimana plastik memblokir saluran pencernaan atau menyebabkan organ tertusuk, yang berujung kematian. Perut yang begitu penuh dengan plastik membuat hewan tidak ingin makan yang berujung pada kelaparan dan kematian.
Tidak hanya hewan laut, Plastik juga telah dikonsumsi oleh hewan darat, termasuk gajah, hyena, zebra, harimau, unta, sapi, dan mamalia besar lainnya, dalam beberapa kasus menyebabkan kematian.
Hasil tes telah mengkonfirmasi kerusakan hati dan sel serta gangguan pada sistem reproduksi, mendorong beberapa spesies, seperti tiram, untuk menghasilkan lebih sedikit telur. Penelitian baru menunjukkan bahwa ikan larva sedang makan nanofibers di hari-hari pertama kehidupan, menimbulkan pertanyaan baru tentang efek plastik pada populasi ikan.
Membendung arus plastik
Begitu berada di lautan, dapat dikatakan mustahil untuk mengambil sampah plastik. Sistem mekanis, seperti Mr. Trash Wheel, pencegat sampah di Pelabuhan Baltimore di Maryland, bisa efektif dalam mengambil plastik besar, seperti gelas busa dan wadah makanan, dari perairan pedalaman. Tapi begitu plastik terurai menjadi mikroplastik dan melayang di seluruh kolom air di lautan terbuka, hampir mustahil untuk dipulihkan.Solusinya adalah mencegah sampah plastik memasuki sungai dan laut, kata banyak ilmuwan dan ahli konservasi — termasuk National Geographic Society.
Hal Ini dapat dicapai dengan perbaikan sistem pengelolaan limbah dan daur ulang, desain produk yang lebih baik yang memperhitungkan umur pendek dari kemasan sekali pakai, dan pengurangan dalam pembuatan plastik sekali pakai yang tidak perlu.

0 Comments