Tonggak sejarah perlistrikan Australia terjadi saat jaringan listrik utama sempat mensuplai hingga 50% permintaan dengan menggunakan energi terbarukan.
Data dari National Electricity Market menunjukan sumber energi terbarukan sudah memasok 50.2% listrik ke wilayah Queensland, New South Wales, Victoria, Tasmania and South Australia.
Adapun sumber energi terbarukan tersebut menggunakan solar pada atap rumah yang mampu menyediakan 23.7% dari permintaan, diikuti dengan tenaga angin sebanyak 15.7%, solar panel skala besar sebanyak 8.8% and dan tenaga air sebanyak 1.9%.
Walaupun saat ini penggunaan batu bara masih digunakan dan kapasitasnya cukup besar, yaitu black coal mensuplai 35.7% and brown coal sebesar 13.5%.
Pada pemantauan, penggunaan renewable energy mampu bertahan diangka 50% hanya dalam 10 menit, sisa sepanjang hari mampu berkontribusi hingga 31,2%.
Pada musim semi, umumnya pembangkit tenaga terbarukan dapat menghasilkan output lebih tinggi, sementara permintaan pun cenderung rendah, karena pelanggan tidak menggunakan listrik untuk menghangatkan atau mendinginkan rumah.
Penggunaan solar panel pada atap rumah perlu terus ditingkatkan, karena ini salah satu kunci utama agar Australia bisa mencapai 100% menggunakan energi terbarukan.
Pada tahun 2018, berdasarkan laporan dari Clean Energy Regulator menunjukan lebih dari 2 juta solar systems skala kecil dipasang. Juga proyek energi terbarukan 3,5 gigawatt untuk memenuhi target energi terbarukan Australia tahun 2020.
Dalam laporan juga dikatakan Australia sekarang lebih cepat dari jadwal dalam memenuhi target skala besar 33.000 gigawatt generasi pembangkit terbarukan pada tahun 2020.
“Renewables and storage can do everything our old coal plants can do, just cheaper, cleaner and more reliably.” - Kane Thornton, CEO dari Clean Energy Council
Artikel diatas dimuat di theguardian.com, satu pertanyaan yang menggelitik saya, kapan Indonesia akan menyusul Australia dalam memberdayakan renewable energy.
source: theguardian.com

0 Comments